Menkominfo dan PWI Pusat ajak media bersiap hadapi transformasi digital era 5G - Mantik Berita %Atal S Depari %

Menkominfo dan PWI Pusat ajak media bersiap hadapi transformasi digital era 5G

 21,270 views (dibaca)

mantik.id, Jakarta — Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat bekerja sama dengan PT. Astra Internasional Tbk. Tahun ini kembali menggelar Safari Jurnalistik yang merupakan program reguler yang difokuskan pada perkenalan dan perkembangan jurnalistik, baik regulasi maupun teknologi.

Masih dalam suasana pandemi kegiatan Safari Jurnalistik 2021 melalui webinar, acara yang berlangsung pada Hari Kamis, 12 Agustus 2021 ini dimulai pukul 09.00 – selesai dengan tema “Masa Depan Media Pascadigitalisasi Televisi dan Era 5G”.

Acara webinar dibuka oleh Ketua Umum PWI Pusat Atal S. Depari, hadir narasumber Dr. Ir. Ismail, M.T, (Dirjen Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika), Wisnu Wijaya Astra (PT. Astra International Tbk.), Sutanto Hartono (Direktur Utama Surya Citra Media), Auri Jaya (Direktur Utama JPNN.com).

Ketua Umum PWI Pusat Atal S Depari membuka acara ini dengan menggambarkan betapa digitalisasi tidak hanya menjadi peluang tapi juga ancamana bagi dunia pers. Digitalisasi sudah masuk ke semua sisi kehidupan, sehingga media pun harus bisa bertransformasi dan mengimbangi kemajuan akibat digitalisasi. 

Menurut Atal, tak ada pilihan bagi media khususnya televisi selain mengikuti kemajuan tekonologi informasi. 

“Disrupsi teknologi telah memaksa kita untuk benar-benar harus terlibat bersamaan dengan kemajuan teknologi itu serta kemajuan pemahaman dari audiens. Maka konsekuensinya semua yang terlibat dalam manajemen media mesti ikut bergulir pula dengan kemajuan teknologi itu sendiri,” sebut Atal dalam pembukaan acara.

Dikatakan Atal, perjalanan media, terutama televisi di Indonesia akan mulai memasuki babak baru, dengan akan dimatikannya siaran analog dan diganti dengan digital yang memiliki banyak kelebihan. Ditambah lagi dengan telah berlakunya teknologi 5G di Indonesia yang sudah bisa dinikmati masyarakat awam. 

“Dua hal ini pastinya akan mengubah peta masa depan media di Indonesia,” lanjut Atal.

Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Johnny Gerard Plate sebagai keynote speaker. Acara yang dipandu oleh Ahmed Kurnia (Direktur Sekolah Jurnalisme Indonesia) ini dihadiri secara daring oleh sekitar 300 peserta, baik itu insan pers dmaupun masyarakat umum yang berasal dari seluruh Indonesia.

Johnny G. Plate menyampaikan bahwa sekarang dunia bertransformasi menuju dunia digital, maka bangsa kita juga sedang menuju bangsa digital. Artinya, semua sisi kehidupan semakin berbasis digital. Untuk menuju ke sana tentunya membutuhkan infrastruktur dan saat ini pemerintah sedang membangun infrastruktur digital di seluruh wilayah. Pembangunan itu dilakukan agar koneksi sinyal merata untuk digitalisasi.

“Saat ini pemerintah sedang mempersiapkan empat sektor digital untuk roadmap Indonesia pada 2021-2024. Keempat sektor itu antara lain adalah sektor infrastruktur digital, sektor pemerintahan digital, sektor ekonomi digital dan tentu saja adalah masyarakat digital.” kata Johnny G. Plate dalam paparannya.

“Media merupakan pilar demokrasi, membuka jendela informasi masyarakat,” lanjut Johnny penuh optimis.

Johnny mengemukakan, media, dan masyarakat menghadapi dua tantangan di masa kini, yaitu disrupsi teknologi diantaranya dengan kehadiran media sosial dan pandemi Covid-19, yang mengubah hampir seluruh aspek kehidupan.

Pada kesempatan selanjutnya Dirjen Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Dr. Ismail, M.T, menyampaikan perihal keuntungan yang didapat serta potensi pemasalahan yang akan timbul akibat proses transformasi digital. Pandemi COVID 19 menghadirkan sebuah momentum untuk mempercepat transformasi digital. Pandemi telah memaksa banyak kegiatan dilakukan secara virtual.  Begitu pula halnya dengan media konvensional yang harus bertransformasi agar tidak ketinggalan zaman. Tak ada pilihan bagi media khususnya televisi selain mengikuti kemajuan tekonologi informasi. Disrupsi teknologi telah memaksa kita untuk benar-benar harus terlibat bersamaan dengan kemajuan teknologi itu serta kemajuan pemahaman dari audiens.

Selanjutnya, peralihan teknologi mobile internet dari 4G dan 5G tentunya akan membawa banyak manfaat dan secara tidak langsung akan mempengaruhi semakin masifnya penggunaan sosial media. Saat ini, model komunikasi dan pembentukan opini mulai dipengaruhi oleh media sosial dan partisipasi masyarakat. Semua orang bisa dengan bebas menyampaikan opini dan memberitakan suatu isu. Hal ini tentunya akan menimbulkan masalah baru terkait dengan begitu cepatnya informasi tersebar tanpa peduli informasi tersebut benar atau tidak. Tingkat literasi masyarakat yang masih rendah membuat hal ini menjadi tantangan dan akan menjadi masalah yang serius jika tidak dipikirkan bagaimana solusinya.

Perjalanan media, terutama televisi di Indonesia akan mulai memasuki babak baru, dengan akan dimatikannya siaran analog dan diganti dengan digital yang memiliki banyak kelebihan. Ditambah lagi dengan telah berlakunya teknologi 5G di Indonesia yang sudah bisa dinikmati masyarakat awam. Dua hal ini pastinya akan mengubah peta masa depan media di Indonesia. 

Membicarakan tentang media tentu tidak lengkap rasanya tanpa menyebut wartawan di dalamnya. Lantas bagaimana cara wartawan beradaptasi dalam rangka menghadapi transformasi digital? Auri Jaya, Direktur Utama JPNN.com mengungkapkan bahwa wartawan harus kompeten secara jurnalistik serta mahir dalam mengoptimalkan SEO (Search Engine Optimization). Wartawan media online harus menyadari, mereka menulis untuk dua audiens, yaitu robot (search engine) dan human (manusia/pengguna/pembaca).

Wartawan, dari pemimpin redaksi hingga editor dan reporter juga harus familiar dengan sejumlah istilah jurnalistik dan media daring, seperti konten (content), tautan (link), pengguna (user), mesin pencari (search engine), pengalaman pengguna (user experience), dan tentu saja SEO. Istilah-istilah tersebut belum ada di era media konvensional cetak dan elektronik (penyiaran). Karenanya, wartawan “jadul” harus mulai terbiasa dengan istilah dan teknik baru di dunia jurnalisme atau era media siber/media online.

Selain itu, yang tak kalah penting adalah wartawan itu sendiri harus dijadikan gaya hidup, bukan hanya dijadikan sebutan untuk profesi. Bagaimana maksudnya? Pertama, seorang wartawan haruslah cerdas dalam membaca situasi dan menyajikan informasi yang dibutuhkan publik. Kedua, wartawan harus melek dan mahir memanfaatkan teknologi dalam menjalani keseharian. Ketiga, wartawan harus kaya akan pengalaman. Pengalaman bisa didapat dari liputan, observasi, atau sekadar jalan-jalan. Keempat, wartawan harus komunikatif. Berpenampilan bebas boleh saja asalkan komunikasi tetap bagus untuk menggali informasi. Yang terakhir, tentunya wartawan harus disiplin, kredibel dan tetap berpegang pada kode etik  jurnalistik.

Perwarta: Enrico Arochmansyah
Editor: Didik Triono
COPYRIGHT© MANTIK.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published.