Penyidikan Kasus TV Kabel Putri di Ambon Terindikasi "Masuk Angin" - Mantik Berita

Penyidikan Kasus TV Kabel Putri di Ambon Terindikasi “Masuk Angin”

 162 views (dibaca)

mantik.id Ambon– Bos Televisi (TV) Kabel Putri Philipus Chandra Hadi, ditetapkan tersangka oleh Direktorat Kriminal Khisus (Direkrimsus) Polda Maluku, karena tidak memiliki Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP). Alat siaran disita untuk dijadikan barang bukti. Namun, diam-diam barang sitaan siaran dipakai untuk siaran dengan 1.400 pelanggan.

Atas dasar itu, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Maluku, sudah 4 kali bolak balik ke Direktorat Krimsus Subit I ingin mengetahui perkembangan laporan pengaduan KPID Maluku Nomor 95/A.1.KPID Maluku/XII/2021 tanggal 17 Desember 2021 tentang Temuan KPID Maluku atas Barang Sitaan Polisi yang digunakan oleh Tersangka Pemilik TV Kabel Putri untuk menyiarkan dan masih memungut biaya dari pelanggan sampai dengan saat ini.

” Namun hasil yang diperoleh KPID Maluku nihil, sampai dengan siaran pers ini dikeluarkan belum ada informasi apapun, apalagi Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) untuk KPID Maluku dari pihak Polda Maluku,”kata Ketua KPID Maluku, Mutiara D.Utama, S.Sos, M.I.Kom, melalui rilis yang diterima mantik.id, Senin (7/2/2022).

Menariknya, laporan pengaduan KPID Maluku ke Direktorat Kriminal Umum terkait ancaman pembunuhan oleh Philipus Chandra Hadi dan Istrinya sudah ditindaklanjuti oleh Direktorat Krimum Polda Maluku. “Ini terasa aneh karena Direktorat Kriminal Khusus Polda Maluku selalu menolak memberikan laporan perkembangan hasil penyidikan atas laporan pengaduan KPID MALUKU nomor 95/A.I.KPID MALUKU/XII/2021. SP2HP adalah hak pelapor (KPID MALUKU),”ingatnya.

Buktinya, Rabu, 5 Januari 2022 lalu, KPID Maluku, melakukan mengecekan dan penelusuran perkembangan laporan pengaduan di Polda Maluku. Namun, didapati fakta bahwa sejak 22 Desember 2021 lalu, laporan pengaduan KPID Maluku, sudah didisposisi ke Direktorat Kriminal Khusus Polda Maluku dan oleh direktur sudah juga didisposisi ke Subdit I Tentang Perindustrian dan Perdagangan.

“Saat itu, KPID Maluku, bertemu langsung dengan Kasubid I Kompol M. Agung Gumilar, S.I.K, IPDA Boyke Nanulaitta, SH dan Kace Fredy Reawaruw. KPID Maluku menanyakan perkembangan hasil penyidikan terhadap laporan pengaduan KPID Maluku. Kasubid I Kompol M. Agung Gumilar, S.I.K menjawab menjawab bahwa disposisi laporan pengaduan KPID Maluku sudah diterima dan tim sudah turun menyelidiki 24 Desember 2021 lalu,”terangnya.

Namun, ingat dia, tim Direkrimsus takut terhadap ancaman kuasa hukum tersangka Philipus Chandra Hadhi, sehingga ada surat pernyataan dalam hal ini tim Krimsus Subidt I menyetujui tersangka Philipus Chandra Hadhi untuk tetap menyiarkan siaran konten dan menarik iuran kepada pelanggan dengan menggunakan barang sitan Polisi.

” KPID Maluku kemudian menanyakan mengapa barang sitaan tetap digunakan atas dasar apa, Kasubid I Kompol M. Agung Gumilar, S.I.K, IPDA Boyke Nanulaitta, SH dan Bripka Kace Fredy Reawaruw tidak mampu menjawab. Mereka hanya beralasan ada SOP. Kemudian KPID Maluku menanyakan sebenarnya dasar penetapan barang sitaan tetap ada di rumah tersangka Philipus Chandra Hadhi, dijawab dengan memperlihatkan surat yang dikeluarkan oleh Direktorat Kriminal Khusus tentang titip rawat barang sitaan. Ketika KPID Maluku menanyakan apakah barang sitaan bisa digunakan untuk disiarkan dan menarik iuran dari pelanggan, jawaban ketiganya adalah tidak bisa,”jelasnya.

Tak hanya disitu, KPID Maluku menanyakan alasannya tidak dijawab. Kasubid I Dirkrimusus Polda Maluku, berjanji akan menginformasikan perkembangan laporan pengaduan setelah melaporkan kepada Direktur Krimusus yang baru.

“Pada hari 17 Januari 2022 lalu, KPID Maluku, kembali melakukan mengecekan dan penelusuran perkembangan laporan pengaduan di Subdit I Tentang Perindustrian dan Perdagangan. KPID Maluku diterima oleh IPTU Frans Yusak, jawaban yang diterima oleh KPID Maluku tetap nihil karena saat itu tidak ada penyidik, tuturnya. (M-003)

Leave a Reply

Your email address will not be published.